Oleh: sijaribu | 10 Oktober 2008

Aborsi dan Harga Diri

Oleh : Inna Hudaya
 

 

Bagaimana aborsi bisa mengikis harga diri seseorang?

I had an abortion

I had an abortion

Harga diri adalah penghormatan terhadap diri sendiri. Biasanya penghormatan dari luar memang akan menambah rasa diri seseorang, seperti euphoria, biasanya tidak bertahan lama. Inilah yang cenderung terjadi di masyarakat kita, harga diri seseorang biasanya di tentukan oleh materi, pekerjaan dan penghargaan dari orang lain. Harga diri seseorang adalah hak mutlak atas penghargaan terhadap dirinya sendiri.Hanya penghormatan dari dalam dirinya sendiri lah yang dapat memperkuat harga diri seseorang. Harga diri bukan hadiah yang bisa di berikan oleh seseorang terhadap kita atau begitu saja di ambil dari diri kita. Harga diri sepenuhnya berada dalam kendali setiap orang itu sendiri. Yang menentukan harga diri seseorang itu rendah atau tidak adalah kemampuan seseorang dalam menghargai dirinya sendiri, bukan mengharapkan penghargaan dari orang lain. Apa yang terjadi di lingkungan kita adalah kebanyakan orang cenderung mengharapkan respon dari luar untuk merasa bahwa seseorang memiliki harga diri. Kebiasaan melihat ke luar diri adalah pencerminan harga diri yang rendah. Namun ke mampuan seseorang untuk mampu melihat ke dalam dirinya sendiri adalah sebuah cara memberi penghormatan terhadap diri Biasanya ketika seseorang lebih banyak melihat ke dalam dirinya dan memberikan penghormatan tertinggi hanya untuk dirinya maka hal tersebut cenderung akan membias ke luar dirinya sehingga orang lain bisa melihat sekaligus menghargainya. Harga diri bukan sesuatu yang kita peroleh secara Cuma-Cuma, harga diri adalah suatu proses terus-menerus mencari dan melihat ke dalam dirinya untuk menemukan penghormatan atas dirinya sendiri.

Setiap orang memiliki sebuah system kepercayaan, system nilai bagi dirinya sendiri. Salah satu cara memberikan penghormatan tertinggi kepada diri sendiri adalah dengan menjadikan system kepercayaan kita sebagai aktualisasi hidup. System kepercayaan adalah sesuatu yang sudah terbentuk sedari kecil, sesuatu yang banyak di operasikan melalui alam bawah sadar kita. Tanpa kita sadari, system kepercayaan kita telah menuntun perilaku dan mengontrol setiap tindakan kita. Ketika kita melakukan sesuatu yang salah menurut system kepercayaan kita, secara otomatis ‘polisi’ di dalam diri kita akan memperingatkan kita. Ketika kita kemudian mencoba menghiraukannya maka kemudian akan terjadi benturan hebat dan pergolakan yang kuat di dalam diri kita, jika kita tidak mampu mengolah benturan tersebut maka cenderung akan mengikis harga diri kita secara pelan-pelan. Dengan kata lain, ketidakmampuan kita hidup sesuai system nilai yang kita yakini dapat mengikis harga diri kita perlahan-lahan.

Ketika seorang perempuan yang memiliki kepercayaan bahwa aborsi adalah suatu tindakan yang salah, maka secara perlahan ketidakmampuannya mengatasi emosi-emosinya dan mempertanggung jawabkan keputusannya mampu mengikis harga dirinya. Itu yang kemudian saya alami beberapa tahun yang lalu. Saya di besarkan di tengah-tengah keluarga yang menerapkan system nilai yang kuat. Sekalipun saya seringkali berontak pada beberapa bagiannya, namun tanpa saya sadari system kepercayaan itu sudah terbentuk sejak saya masih kecil dan kini mendarah daging. Saya meyakini bahwa tindakan aborsi adalah suatu tindakan yang salah. Keputusan saya untuk melawan system nilai tersebut dengan melakukan aborsi telah membawa saya pada tahun-tahun yang melelahkan dalam hidup saya. Bukan orang lain yang membuat saya frustasi, marah, atau merasa tidak berharga. Saya sebenarnya marah pada diri saya sendiri karena ketidakmampuan saya berdamai dengan system nilai yang saya percayai, saya merasakan amarah yang begitu kuat di dalam diri saya sendiri. Ketika harga diri seseorang terkikis, ia cenderung akan melampiaskan nya ke luar. Salah satunya dengan berfikir bahwa ia akan mendapatkan kembali harga dirinya jika seandainya orang-orang di luar dirinya memberikan penghormatan terhadap dirinya. Itulah harga diri yang semu.

Penghormatan lainnya terhadap diri sendiri adalah kemampuan seseorang dalam mempertanggung jawabkan perbuatannya. Masayarakat kita cenderung menghindari tanggung jawab, tidak hanya terjadi pada kalangan elit namun juga terjadi hingga lapisan masyarakat yang terbawah. Dapat di pahami bahwa bertanggung jawab atas sesuatu itu bukanlah hal yang mudah, bahkan sesekali seringkali tampak menakutkan. Namun lari dari tanggung jawab akan memberikan dampak yang jauh lebih menakutkan. Tidak hanya karena tuntutan dari luar diri kita, namun juga tuntutan diri kita yang tinggi terhadap tanggung jawab itu sendiri. Bisa saya katakan secara ekstrem bahwa tuntutan tanggung jawab dari luar diri kita tak seberapa menakutkannya di bandingkan akibat yang mungkin akan menghantui hidup kita, bukan siapa-siapa lagi melainkan kebenaran sejati yang ada di dalam diri kita yang akan selalu menarik kita ke arah kebenarannya. Ini bisa membuat seseorang menjadi gila.

Berbicara mengenai tanggung jawab tidak luput berbicara mengenai konsekuensi. Setiap tindakan memiliki konsekuensi dan tanggung jawab. Konsekuensi pembuahan adalah kehamilan. Konsekuensi seks tanpa pengaman bagi yang belum menikah adalah kehamilan yang tidak di inginkan. Kita tahu itu. Namun tidak semua perempuan paham apa konsekuensi yang akan di hadapinya ketika melakukan aborsi. Saya tidak berbicara tentang resiko fisik, saya yakin semua orang memahami itu. Yang saya bicarakan di sini adalah konsekuensi psikis apa yang mungkin terjadi paska aborsi. Kebanyakan yang ada dalam bayangan setiap perempuan yang aborsi adalah ketakutan akan terjadinya infeksi, resiko terkena kanker rahin dan kanker payudara atau kemungkinan tidak bisa hamil lagi. Namun jarang dari para perempuan ini yang menyadari bahwa paska aborsi mereka bisa saja mengalami stress berkepanjangan, gangguan tidur, numbness atau merasakan amarah yang besar terhadap dirinya sendiri. Ketidaktahuan inilah yang kemudian membuat perempuan post-abortus merasa tidak mampu bertanggung jawab atas keputusannya. Mereka mungkin memiliki kesiapan fisik yang kuat dalam menghadapi aborsi, namun mereka tak memperhitungkan persiapan mental yang harus mereka upayakan setelahnya.

Selama bertahun-tahun saya tidak pernah mengira bahwa perubahan diri saya berhubungan dengan trauma paska aborsi. Saya tidak pernah mengira bahwa perjuangan emosional saya melawan semua ini akan jauh lebih berat daripada perjuangan fisik yang menurut saya itu saja sudah cukup menyakitkan. Tak ada seorang pun yang memberitahu saya bahwa dengan melakukan aborsi saya harus siap dengan kemungkinan terjadinya stress, gangguan tidur, gangguan kepribadian, frigid, dan keterpurukan mental lainnya. Ketidak siapan mental saya itulah yang kemudian memperparah gejala sindrom paska aborsi. ini mungkin berbeda bagi perempuan lainnya, karena memang sindrom ini unik bagi setiap orang dan tidak selalu sama, tergantung pada setiap pribadi itu sendiri.

Selain itu, ketidakmampuan seseorang untuk jujur pada dirinya sendiri dan penyangkalan yang berlarut-larut dapat mengikis harga diri seorang perempuan post-abortus. Masih banyak perempuan post abortus yang tidak dapat menerima dirinya sendiri, dan masih terus melakukan penyangkalan atas kenyataan bahwa ia pernah melakukan tindakan aborsi. ketika kita tidak jujur pada diri maka kita tengah menipu diri sendiri dan membiarkan harga diri kita terkikis. Memang, jauh lebih mudah merasionalisasikan kesalahan daripada mengakuinya. Penyangkalan itu ibarat tidak mau membuka mata terhadap realita karena kebenaran itu menyakitkannya. Penerimaan diri adalah menerima siapa diri kita apa adanya, seutuhnya, tanpa memilah-milah bagian yang ingin kita buang. Mari kita belajar membangun harga diri dengan menghormati dan menerima diri sendiri dengan segala cacat dan celanya.

sumber: abortus.blogspot.com

 

 

 

 


Responses

  1. terimakasih sudah mencantumkan sumbernya🙂

    Inna hudaya


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: