Oleh: sijaribu | 1 Oktober 2008

Pembangunan karakter

Ketua Umum Yayasan JARIBU Haryo U. Kustianto & Walikota Serang Asmudji HW

Ketua Umum Yayasan JARIBU Haryo U. Kustianto & Walikota Serang Asmudji HW

Sudjana Royat (

Deputi Menko Kesra) selaku Sekjen Tim Koordinasi Penanggulan Kemiskinan yang memberi sambutan terakhir menyatakan,  penandatanganan kerjasama JARIBU dan Pemkot Serang ini menjadi momentum pembangunan karakter warga Serang khususnya, dan rakyat Indonesia pada umumnya. Pasalnya, kerjasama tersebut bukan hanya memberi bantuan , tapi yang lebih utama lagi adalah pembangunan karakter.

“Percuma dibuatkan jamban yang bagus, kalau karakternya tidak dibangun. Warga lebih suka membuang hajat di pinggir-pinggir kali atau di kebon,” ungkapnya.

Menurut dia, TKPK yang beranggota 22 menteri bersedia memayungi kerjasama tersebut karena Lewat peningkatan program gizi dan kesehatan, JARIBU juga ikut membangun karakter bangsa. Ini jauh lebih penting daripada sekadar memberikan bantuan berupa fisik.

Hal  senada juga disampaikan Haryo. Menurut dia, pembangunan karakter menjadi penting terutama bila dikaitkan dengan potensi luar biasa yang dianugerahkan Tuhan kepada bangsa Indonesia. Negeri kepuluan yang pernah dijuluki rangkaian jambrut katulistiwa oleh Multatuli ini memiliki kekayaan alam yang berlimpah ruah. Haryo menyebutnya sebagai nomor tiga di dunia. Dari jumlah penduduk, Indonesia berada pada urutan keempat setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.

Sayangnya,  semua potensi tersebut belum berhasil membawa Indonesia berdiri di barisan depan dalam pergaulan internasional. Bahkan Human Development Index (HDI) alias Indeks Pembangunan Manusia negeri berada di urutan 107. Di Asia, hanya ada dua negara yang tidak lebih baik dari Indonesia, yaitu Kamboja dan Myanmar.

Tragis, memang.  Haryo benar adanya. Sebagai sebuah negara besar yang gemah ripah loh jinawi, nasib Indonesia terpuruk di pergaulan dunia internasional. Sebagian besar penduduknya masih miskin, berasupan gizi yang tidak memadai, dan berpendidikan rendah. Harkat dan harga diri bangsa pun longsor ke titik nadir. Betapa tidak? Negara serumpun yang paling dekat seperti Malaysia saja bisa mengklaim pulau Sipadan, Ligitan, dan Ambalat sebagai miliknya. Ketika maju ke pengadilan internasional, Indonesia keok. Bukan itu saja, negeri jiran itu bahkan mengaku pemilik sah beberapa kebudayaan tradisional kita. Reog, adalah salah satunya.

Kelakuan serupa juga ditunjukkan the little neighbor Singapura. Negara Singa ini terus rajin menggelembungkan luas daratannya lewat mereklamasi laut dengan pasir yang diambil dari Kepulauan Riau dan sekitarnya. Akibatnya, zona ekonomi ekslusif yang diklaimnya pun terus mengembang dan bergesekan dengan ZEE Indonesia. Kalau Malaysia dan Singapura yang kecil saja sudah berani menari di kepala kita, apalagi dengan negara besar lain? Bukan rahasia lagi bila negara-negara besar itu telah cukup lama menjajah kita lewat kekuatan kapital dan institusi keuangan globalnya.

sumber: http://www.jaribu.or.id


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: