Oleh: sijaribu | 1 Oktober 2008

KISAH JAMBAN DAN DOMINASI PARA TUYUL

MOU JARIBU-Pemkot Serang dan Pembangunan Karakter Bangsa 

Deputi Menko Kesra Sudjana Royat selaku Sekjen Tim Koordinasi Penanggulan Kemiskinan - Walikota Serang Asmudji - Ketua Umum Yayasn JARIBU Haryo U.

Deputi Menko Kesra Sudjana Royat selaku Sekjen Tim Koordinasi Penanggulan Kemiskinan - Walikota Serang Asmudji - Ketua Umum Yayasn JARIBU Haryo U.

Bisakah Anda membayangkan, toilet alias jamban yang masih tetap tampak baru setelah enam bulan dibangun? Bukan itu saja, jamban tersebut juga masih terlihat bersih. Satu lagi, jangan bayangkan bahwa tempat orang melepaskan hajat yang tetap terlihat baru dan bersih itu berada di hotel bintang lima yang mewah dan senatiasa wangi.Maaf, Anda keliru kalau berpikir seperti itu.

Jamban yang dimaksud berada di sebuah perkampungan di Serang, Provinsi Banten, sebuah kota kecil berjarak sekitar 100 km agak ke barat Jakarta. Benarkah di Serang ada jamban yang tetap tampak baru dan bersih kendati telah dibangun enam bulan lewat? Ya, ada. Atau tepatnya pernah ada.

Ini bukan cerita isapan jempol belaka. Kisah ini dipaparkan Walikota Serang Asmudji saat memberi sambutan usai menandatangani naskah kerjasama dengan Yayasan JARIBU, di Serang, Selasa (16/09). Kedua pihak sepakat meningkatkan gizi dan kesehatan warga Kota Serang. JARIBU diwakili Ketua Umumnya, Haryo U. Kustianto. Penandatanganan juga disaksikan Sudjana Royat, Deputi Menko Kesra yang siang itu bertindak selaku Sekjen Tim Koordinasi Penanggulanan  Kemiskinan (TKPK).
 
Kembali ke soal jamban tadi. Menurut Asmudji, jamban yang tetap molek setelah enam bulan dibangun itu bukan disebabkan warga Serang adalah manusia jempolan dalam hal menjaga kebersihan dan sanitasi. Justru sebaliknya, jamban tersebut dibangun karena warganya masih terbilang payah dalam perkara yang satu ini.

“Dari 503.000 jiwa lebih warga Serang, yang punya jamban sendiri masih kurang 50%. Sisanya masih menggunakan toilet umum, berbarengan atau gantian dengan tetangga. Jumlah itu termasuk warga Kecamatan Serang Kota, yang jaraknya hanya 1 km dari pusat pemerintahan Provinsi Banten,” tutur Asmudji yang pagi itu mengenakan kemeja cerah lengan panjang berdasi biru telur asin.

Lho, bagaimana mungkin, ada perkampungan yang payah dalam hal sanitasi tapi bisa memiliki jamban yang tetap baru dan bersih? “Setelah diselidiki, ternyata jamban itu memang tidak pernah dipakai warga. Alasannya, jamban tersebut dibangun dengan tertutup rapat. Padahal mereka terbiasa menggunakan jamban yang temboknya tidak tinggi, sehingga warga masih tetap bisa ngobrol dengan ‘tetangga sebelah’ saat mereka sama-sama melepas hajat,” papar Asmudji lagi.

Tawa hadirin pun lepas memenuhi aula Kota Serang, tempat penandatanganan berlangsung. Tapi, ada nuansa getir menyeruak dari balik riuhnya tawa tersebut. Ada ironi juga tragis yang kental mengiringi kisah jamban dari walikota. Ia bernama budaya dan karakter.

Jamban di Serang ini menjadi konfirmasi bahwa pembangunan budaya dan karakter jauh lebih penting ketimbang sekadar pembangunan fisik. Sepanjang ada dana, pembangunan fisik bisa dilaksanakan. Namun pertanyaannya, setelah itu apa? Dan, akhir cerita, jamban baru bisa bermanfaat setelah bangunan bagian atas dipotong setengahnya. Tujuannya, ya itu tadi, agar para warga yang sama-sama melepas hajatnya bisa saling ngobrol.

sumber: www.jaribu.or.id


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: