Oleh: sijaribu | 1 September 2008

Mendesak, Pendidikan Seks Siswa SD

Kurikulum pendidikan seks bagi siswa SD kelas IV dan V, apalagi siswa SMP dan SMU sangat mendesak. Kurikulum pendidikan seks dapat memakai istilah lain agar tidak berkesan menyeramkan.

 

Bila kurikulum pendidikan seks berjalan sejak dinimaka dapat mencegah membengkaknya jumlah penderita AIDS. Kalau pendidikan seks berhasil tidak perlu ide membagi-bagi kondom.

“Percuma saja dilakukan pemberian kondom gratis bila pendidikan seks terlambat, bahkan tidak dimasukkan dalam kurikulum pendidikan,” papar pakar Seksiologi Boyke Dr Boyke Dian Nugraha.

Jumlah penderita AIDS di Indonesia dalam tahun 2000 diperkirakan mencapai 1.5 juta jiwa.
Boyke berbicara pada seminar Problem Remaja Pasca SMU dan Tantangan Memasuki Dunia Kerja yang diselenggarakan AMIK Kartika Yani di Jalan Jend Sudirman 50 Yogya.

Boyke menengarai, pendidikan seks bagi remaja di negeri ini sudah terlambat. Ini terbukti banyaknya pertanyaan “aneh” dari para remaja putri. “Misalnya ada pertanyaan yang dilontarkan remaja putri, mengapa ada perempuan bisa hamil saat mandi di sungai. Padahal kan kehamilan 99 persen terjadi hasil hubungan badan. Sperma yang dikeluarkan laki-laki akan mati dalam waktu satu detik bila tidak ada medianya. Hamil karena mandi di sungai kemungkinannya sangat kecil. Apalagi hamil saat mandi kolam renang yang nota bene banyak kandungan kaporitnya,” kata Boyke.

Penelitian seks
Pemerintah, papar Boyke, hendaknya dapat menerima masukan atau hasil penelitian yang dilakukan mahasiswa. Meski penelitian masih kurang valid, tetapi dapat memberi masukan yang dapat ditindaklanjuti kebenarannya. Dalam hal ini pemerintah jangan sampai melakukan sanksi bagi mahasiswa yang meneliti.

Dari sebuah penelitian di Jakarta, kata Boyke, ditemukan sebanyak 30 mahasiswa di Jakarta pernah melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Sedangkan 25 mahasiswa lainnya dalam berpacaran sudah menjurus ke arah “bahaya”.

Dikatakan lebih lanjut, bahwa hasil penelitian mahasiswa Fisip UI itu mengambil sampel 150 mahasiswa di Jakarta. Sebanyak 20 persen mahasiswa yang mempunyai pacar pernah melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Sedang 17 persen dalam berpacaran sudah melakukan ekspansi ke “daerah terlarang”.

Boyke berpendapat, penayangan media massa, baik media cetak maupun elektronik masalah perselingkuhan kalangan selebritis justru berdapampak negatif. Masyarakat akan terpengaruh. “Saat ini banyak remaja yang mendapat pacar pertama langsung main tembak. Selain itu alasan takut ditinggal sang kekasih juga memberi peluang terciptanya perselingkuhan. Masyarakat pedesaan juga mendapat pengaruh yang sama dari penayangan televisi.

Sehingga akibatnya jelas lebih parah lagi. Benteng perselingkuhan kini tidak hanya cukup iman, tapi pendidikan masalah seks sejak dini,” tegas Boyke.

Pendidikan seks dilakukan sejak dini dapat menekan laju angka penderita penyakit kelamin, AIDS dan aborsi yang dilakukan kalangan remaja. Bahkan juga bisa mencegah terjadinya perilaku penyimpangan seks. Materi pendidikan seks tidak perlu ditutup-tutupi, karena akan menjadikan siswa bertambah penasaran dan ingin mencobanya. “Namun perlu penjelasan akibat seks itu sendiri,” katanya.

Perkembangan trend perkawinan orang Jakarta, kata Boyke sudah mengerikan. Pasangan suami-istri yang terikat dalam perkawinan bebas melakukan hubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya. “Indikasi menjalarnya trend tersebut sudah mulai terasa di Yogyakarta. Apalagi Yogya dikenal banyak mahasiswa yang melakukan kumpul kebo,” ujar Boyke.

Boyke menambahkan, sebenarnya orangtua juga peduli dengan pendidikan seks. Ini terbukti dengan banyaknya orangtua yang datang mengikuti seminar masalah seks.
www.keluargasehat.com

si Jaribu

si Jaribu


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: